Rektor Dituntut Kreatif dan Inovatif Pimpin Perguruan Tinggi

Rektor Dituntut Kreatif dan Inovatif Pimpin Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi harus dikelola secara kreatif agar bisa terus berinovasi sehingga mampu melahirkan banyak enterpreneur muda yang siap bersaing di tingkat global. Kepiawaian manajemen dalam mengembangkan institusi dan kemampuan memanfaatkan inovasi teknologi menjadi landasan kuat untuk membangun perguruan tinggi berkualitas dunia.

Menteri Riset, Teknologi, dan pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjelaskan, kreativitas, inovasi dan enterpreneurship merupakan tiga kunci utama dalam memajukan pendidikan tinggi nasional. Menurut dia, peran rektor menjadi sangat krusial karena bersentuhan langsung dengan tiga kunci tersebut.

“Inovasi juga harus berkualitas. Inovasi yang berkualitas hanya dapat dihasilkan dari riset yang baik. Untuk itu, supaya perguruan tinggi mampu menghasilkan inovasi berkualitas, maka harus dijaga kualitas riset agar inovasi bisa dilakukan tiada henti,” ucap Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Jumat 28 Juli 2017.

Ia menjelaskan, rektor harus kreatif dalam dalam memaksimalkan pontensi sumber daya manusia dan fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia. Manejeman yang baik akan mendorong perguruan tinggi semakin berkembang. Baik secara finansial atau pun prestasi akademik. “Kreativitas tidak hanya pada sesaat, tapi bagaimana mengembangkan institusi yang lebih baik. Bagaimana mutu pendidikan makin baik. Bagaimana keuangan makin baik,” ujarnya.

Informasi PMB Pendaftaran Online Login Pendaftar
  Chat Kami via WhatsApp  

Ia mengatakan, jika inovasi dan kreativitas sudah terbangun, maka sumber daya manusia yang dilahirkan dari perguruan tinggi tersebut akan mampu bersaing, terutama dalam dunia industri dan perekonomian. “Akan menghasilkan entrepreneur muda yang mengembangkan usaha berbasis inovasi teknologi. Menghasilkan lulusan yang mampu memiliki jiwa berwirausaha. Pengelola kampus harus berjuang keras bagaimana menghasilkan seorang entrepreneur muda,” ujarnya

Selain ketiga faktor di atas, Nasir juga menekankan pentingnya membangun good governance agar lembaga perguruan tinggi tumbuh dengan sehat. Menurut dia, transparansi, akuntabilitas, dan responsibilitas menjadi inti dari terwujudnya good governance di lingkungan kampus. Good governance juga akan menghindarkan rektor dari masalah di kemudian hari.

“Jangan sampai stakeholder, jangan sampai yang ada di lingkungan kampus selalu bertanya-tanya terhadap apa yang sudah dilakukan oleh rektor? Apa yang dilaksanakan oleh manajemen? Untuk itu semua kebijakan, semua keputusan ini harus ditunjukkan kepada publik, kepada para stakeholder,” katanya.

Badan Layanan Umum di Perguruan Tinggi
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sebuah perguruan tinggi harus berbentuk Badan Layanan Umum. Nasir menuturkan, saat menjadi BLU, peran rektor tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga menjadi seorang chief executive officer. “Di mana inti bisnisnya adalah pendidikan tinggi serta mampu menjaga sustainability dengan baik,” katanya.

Hingga saat ini, dari 118 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), sebanyak 11 PTN merupakan menyandang status PTN Badan Hukum (PTN-BH), 26 PTN BLU, dan 81 sisanya masih PTN satuan kerja pemerintah. “Untuk menjadi BLU, kami harus mengenal pengelolaan keuangan dengan baik. Dan perlu dukungan dari Kemenristekdikti, Kemenkeu dan pemerintah daerah,” kata Rektor Universitas Sam Ratulangi Ellen Joan Kumaat.

Sumber : Pikiran Rakyat

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.