Revolusi Industri 4.0? Siapkah kita? Atau Tertinggalkah kita?

Revolusi Industri 4.0? Siapkah kita? Atau Tertinggalkah kita?

Belakangan ini banyak sekali yang membicarakan tentang revolusi industri 4.0. Baik tokoh nasional, tokoh internasional, berkali-kali berbicara mengenai “Bersiaplah menyongsong industri 4.0” atau “Kita tidak boleh tergilas oleh industri 4.0” atau “Kita harus bisa memanfaatkan fenomena Industri 4.0.” Jadi, sebenernya revolusi industri 4.0. itu apa? Pada artikel ini iMandiri akan memaparkan tentang revolusi industri, mulai dari yang terdahulu sampai dengan yang terkini.

Revolusi Industri 1.0
Istilah ini pertama kali muncul sekitar tahun 1750-an. Tahun-tahun tersebutlah yang sering disebut masa revolusi industri 1.0. Pada masa tersebut, terjadi perubahan secara besarbesaran dalam bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Revolusi bermula ketika mesin bertenaga air dan uap dikembangkan untuk membantu pekerja. Mesin-mesin itu menggantikan tenaga manusia dan hewan untuk meningkatkan kemampuan produksi. Perubahan ini memiliki dampak besar terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan budaya dunia. Sejarah bahkan mencatat, revolusi ini berhasil menaikkan perekonomian dunia selama dua abad berikutnya.

Revolusi Industri 2.0
Dua abad setelah revolusi industri 1.0, atau tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, terjadi revolusi industri 2.0. Merangkum dari laman APICS.org, pada masa tersebut, listrik mulai menggantikan tenaga air dan uap sebagai sumber daya utama. Listrik dianggap lebih mudah digunakan untuk mesin dibanding dua sumber daya sebelumnya. Penemuan listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber) memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain. Periode ini juga memicu perkembangan sejumlah program manaheman yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas fasilitas manufaktur. Hasilnya, peningkatan produktivitas berkali lipat.

Revolusi Industri 3.0
Kemunculan teknologi digital dan internet menandainya dimulainya revolusi industri 3.0. Sekitar akhir abad ke-20, penemuan dan pembuatan perangkat elektronik memungkinkan otomatisasi mesin secara lebih penuh. Periode ini melahirkan perangkat lunak untuk memanfaatkan perangkat keras elektronik. Dalam pandangan sosiolog Inggris David Harvey, revolusi industri 3.0 atau juga disebut revolusi digital adalah prose pemampatan ruang dan waktu. Artinya, waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Revolusi ini juga mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun berubah mengikuti revolusi ini. Apalagi saat itu tekanan untuk mengurangi biaya cukup kuat. Akibatnya, produsen mulai memilih mesin ketimbang manusia. Tak hanya itu, produsen juga mulai memindahkan pabrik-pabriknya ke negara berbiaya rendah. Semuanya bertujuan untuk menekan biaya produksi tapi tetap melakukan reproduksi secara besar-besaran.

Informasi PMB Pendaftaran Online Login Pendaftar
  Chat Kami via WhatsApp  

Revolusi Industri 4.0
Pada revolusi industri generasi 4.0, manusia telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptivetechnology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan yang telah berjaya bertahun-tahun. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Ukuran perusahaan tidak lagi menjadi jaminan. Kelincahan para pengusaha dituntut dalam hal ini, terutama karena hubungan internet of things (IOT) dan teknik manufaktur memungkinkan sistem untuk berbagi informasi, menganalisisnya, dan menggunakannya sebagai tindakan cerdas. Perkembangan teknologi baru telah menjadi pendorong utama pergerakan menuju revolusi industri 4.0 ini.

Revolusi Industri 5.0
Ketika Indonesia sibuk mengejar revolusi industri 4.0, Jepang lebih maju satu langkah dengan kesiapan mereka menerapkan Society 5.0. Negeri Sakura kini berambisi mendigitalisasi seluruh aspek kehidupan mengingat semakin memburuknya krisis buruh dan pesatnya penuaan penduduk di negara itu.
Kesiapan Jepang menuju era society 5.0 sebenarnya sudah dimulai diperkenalkan pada Juni 2017 silam. Saat itu, Kantor Perdana Menteri Jepang merilis rincian strategis, termasuk penggunaan teknologi baru untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi. Tekad menerapkan era super pintar itu kembali disampaikan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada ajang Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) akhir bulan lalu di Davos, Swiss.

Contoh implementasi Society 5.0 di Jepang ialah seperti pengiriman paket menggunakan drone tanpa awak. Kehidupan sehari-hari juga akan berubah dengan hadirnya aplikasi pintar berbasis AI yang dipasang di rumah seperti di pintu kulkas. Melalui teknologi tersebut, warga Jepang dapat melihat saran makanan dan bumbu sesuai musim atau resep memasak. Mereka juga dapat melihat data pasokan pangan yang masih tersedia.

Society 5.0 bukan hanya tentang teknologi, tapi juga kebijakan dan regulasi. Pemerintah Jepang mendorong pebisnis setempat untuk berbagi big data dan meningkatkan kerja sama untuk menciptakan inovasi baru. Saat ini, kemampuan perusahaan masih terbatas karena data yang diperlukan dimiliki entitas lain.

Pada masa depan, sektor swasta dan umum dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem baru yang lebih aman dan efektif. Hal itu dinilai akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk berbagi informasi dan mengizinkan perusahaan lain menggunakan data mereka guna mengembangkan produk yang lebih baik dan bagus.

Demikian sedikit pemaparan tentang perkembangan revolusi industri, semoga bermanfaat. (dEe)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.